Dolar AS Tembus Rp 14 Ribu, Melemahnya Rupiah


Petugas menghitung pecahan Dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Rabu (12/8). Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS pada perdagangan Rabu (12/8) ditutup pada kisaran Rp.13.800. (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)

Jakarta, CNN Indonesia -- Nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah 66 poin atau 0,47 persen pada perdagangaan hari ini, Senin (24/8). Rupiah terpuruk dan sempat menembus level Rp 14.006 dari sesi penutupan perdagangan hari sebelumnya di Rp 13.940 per dolar AS.

Reuters mencatat, rupiah sampai saat ini telah anjlok 12,95 persen sejak dibuka pada awal perdagangan tahun ini di level Rp 12.400 per dolar AS.
Anton H. Gunawan, Ekonom yang juga Advisor di Australia Indonesia Partnership for Economic Governance (AIPEG), menilai rupiah masih akan bergejolak untuk beberapa waktu terakhir karena banyak sentimen yang memicu pelarian modal dari pasar uang. Dari eksternal, investor menyoroti soal ketidakpastian rencana normalisasi kebijakan moneter Amerika Serikat dan ancaman depresiasi Yuan China dan Ringgit Malaysia.

"Kalau bicara year to date (Januari sampai hari ini), ringgit Malaysia itu mengalami depresiasi yang paling parah di kawasan Asean," jelasnya kepada CNN Indonesia, Senin (24/8).

Investor dalam negeri, lanjut Anton, sebenarnya lebih banyak menunggu dan mengikuti strategis yang diambil oleh investor luar negeri. Sementara investor asing selain memperhatikan kondisi domestik Indonesia, juga mempertimbangkan peluang global.

"Kalau mau jujur, mereka yakin Indonesia masih lebih bagus di Asia dibandingkan beberapa emerging market seperti China yang sedang anjlok, Malaysia dan Thailand kena masalah politik," tuturnya.

Sementar dari dalam negeri, lanjutnya, struktur ekonomi dan pasar uang Indonesia yang mirip-mirip dengan Malaysia turut berpengaruh terhadap pelemahan kurs. Indikatornya antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap ekspor komoditas, serta kepemilikan asing yang cukup besar di pasar saham dan obligasi.

"Itu dua yang agak mirip. Walaupun di Indonesia saat ini tidak ada masalah politik yang berat seperti di Malaysia dan Thailand," tuturnya.

Terlepas dari masalah eksternal tersebut, Anton mengatakan ada dua indikator ekonomi utama yang saat ini  menjadi perhatian dan pertimbangan investor pasar uang.  Pertama adalah perlambatan ekonomi, terutama dari sisi konsumsi yang melemah.

"Pembangunan infrastruktur yang diharapkan bisa meningkatkan konsumsi dan menahan perlambatan ekonomi, itu masih belum terlalu cepat. Karena memang ekspektasinya terlalu tinggi sebelumnya," jelas Anton.

Faktor kedua adalah kejatuhan rupiah yang masih berlanjut. Menurutnya, selama kurs terus melamah, maka pemodal asing di portfolio akan memilih untuk keluar.

"Dari kedua faktor ini, kebijakan fiskal dan moneter diharapkan sejalan dalam mengatasi perlambatan ekonomi. Mau tidak mau harus fokus ke growth di samping melakukan stabilisasi pasar uang," tuturnya.
 
berita dikutip dari cnnindonesia
Share this :
« Kembali

www.black-walet.com © 2016 Allright Reserved

DISCLAIMER :
Website Black-walet.com BUKAN web resmi perusahaan, melainkan hanya untuk membantu team dalam mengembangkan bisnis yang kami jalankan. Tidak ada klaim bonus, refund, atau klaim apapun yang dapat dibebankan pada pengelola Black-walet.com.
Development by Arbo Media Website Development